Rabu, 02 Mei 2012

Posted by zein Syahida On 08.58

MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PENDIDIKAN ISLAM

Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas salah satu mata kuliah umum di 
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA



Disusun oleh : 
1.      Zein Syahida Kusuma Putra      ( 11520241002 )
2.      Anjar Rohmi                             ( 11520241014 )
3.   Anis Khoirunisa                         ( 11520241038 )


PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA 2011
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah usaha sadar yang terus menerus untuk mewujudkan manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan anggun sikap moralnya adalah harapan kita bersama. Meyakini pendidikan sebagai usaha yang paling mendasar dan strategis sebagai wahana penyiapan sumber daya manusia (SDM) dalam pembangunan tentunya umat islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia harus bangkit dan memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pembenaran alasan di atas, yakni :
Pertama : dari segi ajaran agama , Islam telah menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk meraih keunggulan hidup. Pendapat semacam ini sangat ditaati oleh manusia modern dewasa ini. Yaitu untuk meraih keunggulan kehidupan duniawi (the worldliness), sedang menurut Islam lebih dari itu, yaitu bahwa penguasaan ilmu pengetahuan itu sebagai mediator untuk menuju keunggulan dua kehidupan sekaligus, yaitu kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrowi (the life of here –after). Gambaran ini amat jelas jikalau kita merujuk Sabda Nabi Muhammad SAW :
barang siapa yang ingin unggul di dunia, harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin unggul di akerat, harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang ingin ungul pada kedua-duanya, juga harus dengan ilmu”.
Bagi Islam, semua usaha seseorang di dunia ini memiliki efek kumulatif, artinya apabila suatu usaha untuk menuntaskan kepentingan duniawi ia juga memiliki akses pada kehidupan sesudah mati. Demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah sangat tidak berdasar kalau menjadikan salah satu dari kehidupan ini menjadi kurang atau lebih penting.
     Kedua : dalam perkembangan sejarahnya, Islam telah cukup memberikan acuan dan dorongan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam analisis sejarah, diakui bahwa sebagai faktor penyebab proses adopsi ilmu pengetahuan dalam dunia Islam oleh dunia Barat adalah karena mereka melakukan gerakan penerjemahan besar-besaran atas hasil kajian sarjana muslim. Atas dasar itu berubahlah peta peradaban manusia, dimana sebelumnya Islam telah menguasai ilmu tetapi telah bergeser pada barat. Dan faktor yang dapat dipetik dari sejarah tersebut adalah faktor sumber daya manusia untuk mencapai keunggulan hidup, bahkan menjadi penentu atas pergeseran peradaban dunia. Mari kita perhatikan Q.S. Al-Alaq ayat 1 - 5 :
اقْرَأْبِاسْمِرَبِّكَالَّذِيخَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptaka

             Tafsir :

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira' suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca". Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al `Alaq Lalu Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan: "Selimutilah aku! Selimutilah aku!". Nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: "Aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku" Khadijah berkata: "Tak usah khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita".
Kemudian Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.

            Khadijah berkata kepadanya: "Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini!". Lalu Waraqah bertanya: "Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?". Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira'. Kemudian Waraqah berkata: "Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu", maka Nabi bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?". Jawab Waraqah: "Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya". Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW. Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia. Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.
خَلَقَالْإِنسَانَمِنْ عَلَقٍ

Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah.


Tafsir :
            Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi SAW. yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.
                                                                                              اقْرَأْوَرَبُّكَالْأَكْرَمُ

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah,
Tafsir :
            Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi SAW.
                                                                                   الَّذِيعَلَّمَبِالْقَلَمِ

                                                                         Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Tafsir :
            Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
                                                                                                                                         الَّذِيعَلَّمَبِالْقَلَمِ

                                                                   Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Tafsir:
            Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dari 'Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.
عَلَّمَالْإِنسَانَمَا لَمْيَعْلَمْ

                                                      Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
           Tafsir:
Kemudian dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dialah Tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dari pada binatang-binatang, sedangkan manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta Nabi SAW. sanggup menerimanya.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik. banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaan mereka.
            Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Lagi pula ayat ini sebagai bukti bahwa manusia yang dijadikan dari benda mati yang tidak berbentuk dan tidak berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai menulis, berbicara dan mengetahui semua macam ilmu yang tidak pernah diketahuinya.
Islam berasal dari kata salama yang berarti damai dan selamat. Sedangkan menurut istilah, Islam berarti tunduk dan patuh terhadap segala apa yang diretapkan Allah, baik yang dimuat di dalam Al-Qur’an maupun hadis Rosulullah SAW. Untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

B.RUMUSAN MASALAH
1      1.      Pengertian Pendidikan Islam ?
2      2.      Fungsi Pendidikan Islam ?
3      3.      Tantangan Pendidikan Islam ?
4      4.      Manajemen IQ,EQ dan SQ untuk meningkatkan mutu SDM ?
C. TUJUAN
1      1.      Untuk mengetahui pengertian Pendidikan Islam
2      2.      Untuk mengetahui apa fungsi dari Pendidikan Islam
3      3.      Untuk mengetahui tantangan yang di hadapi di dunia Pendidikan Islam
4      4.      Mempelajari bagaimana dan cara untuk meningkatkan mutu SDM melalui manajemen IQ,EQ dan SQ


BAB II
PEMBAHASAN

    A.    Pengertian Pendidikan Islam
            Sebelum di uraikan lebih lanjut tentang pengertian Pendidikan Islam,terlebih dahulu kita ketahui apa pengertian dari pendidikan dan Islam itu sendiri.Dalam GBHN 1973 dikemukakan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup (Sahabuddin,1985)”.Ini berarti bahwa pendidikan itu adalah kegiatan yang diadakan atau yang dilakukan dengan sengaja,didalamnya selalu ada maksud,ada alas an untuk apa hal itu diadkan atau dikerjakan.
Islam adalah “damai”,tenteram atau agama yang dibawah oleh Nabi Muhammad SAW.Dengan kitab suci Al-Qur’an Karim.( Tafsir,1992 ) Jadi kata Islam dalam pendidikan Islam menunjukkan warna pendidikan tersebut,yaitu pendidikan yang bernuansa islam.
            Menurut Arifin (Arifin,1993) menjelaskan bahwa : “Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses konsep kependidikan yang bersifat progressif menuju kearah kemampuan optimal anak didik yang berlangsung diatas nilai-nilai ajaran islam”.
            Setelah membaca banyak pendapat-pendapat yang mengemukakan pendidikan Islam,kami menyimpulkan bahwa Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan secara sadar melalui proses dengan tujuan “memanusiakan manusia” atau dengan kata lain bagaimana membimbing anak menjadi manusia seutuhnya,yang beriman dan bertakwa,serta memiliki kepribadian yang Islami dan berakhlak mulia,sehingga dalam kehidupannya diharapkan mampu berbuat yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan orang lain,serta berguna bagi bangsa dan Negara.

   B.     Fungsi Pendidikan Islam
Fungsi pendidikan Islam terbagi menjadi dua,yaitu fungsi secara mikro dan makro.
v    Fungsi Pendidikan Islam secara mikro adalah memelihara dan mengembalikan fitrah dan sumberdaya insani yang ada pada subyek didik menuju manusia seutuhnya sesuai dengan norma islam atau dengan kata lain menuju terbentuknya kepribadian muslim.
v        Fungsi Pendidikan Islam secara makro adalah dapat di tinjau dari fenomena yang  senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.
                         Manusia berkembang dari masyarakat primitive menuju masyarakat modern.Kedalaman dan keluasan interaksi manusia semakin bertambah dengan berkembangnya teknologi komunikasi.berbagai macam informasi dapat di terima dan di akses sedemikian cepat .Semakin luas wawasan dan pengetahuan semakin maju pula pemikirannya dan seiring dengan kemajuan pemikirannya,semakin berkembang pula kreativitasnya untuk mencipta,melakukan eksplorasi guna memenuhi hajat hidupnya.
            Kita dapat membandingkan pola pikir dan perilaku masyarakat primitive dan modern dalam mengatasi problematika kehidupannya.Jika masyarakat primitive,hanya memiliki wawasan yang terbatas,maka sangat terbatas kreativitasnya.Sedangkan masyarakat modern karena wawasannya semakin luas maka semakin tinggi kreativitasnya.Dapat di tarik kesimpulan,fungsi pendidikan yang pertama menumbuhkan wawasan yang tepat mengenai manusia dan lingkungannya.
                        Interaksi manusia dapat berlangsung secara harmonis karena ada nilai-nilai kemanusiaan yang disepakati bersama,antara lain kejujuran,keadilan,tolong menolong saling menghormati.Dalam Islam,nilai-nilai tersebut tidak hanya berdasarkan norma atau ukuran manusia tetapi berdasarkan norma Tuhan yang memiliki kebenaran mutlak dan bersifat universal,karena biasa dinamakan nilai-nilai transcendental ilahi.

Q.S. Al-Baqarah 2:15
                                                             اللّهُيَسْتَهْزِىءُبِهِمْوَيَمُدُّهُمْفِيطُغْيَانِهِمْيَعْمَهُونَ

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terumbang-ambing dalam kesesatan mereka.

Tafsirnya  :
Ayat ini menegaskan hukuman bagi orang munafik sebagai akibat perbuatan mereka yang tersebut pada ayat di atas. Allah membalas olok-olokan mereka dengan menimpakan kehinaan atas mereka dan Allah membiarkan mereka bergelimang terus dalam kesesatan dan mereka kelak akan diazab pada hari kiamat.
            Di ayat lain Allah berfirman:
وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ 
Artinya:
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepada (Alquran) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat, (Q.S Al An'am: 110)
Tafsirnya  :
            Orang-orang munafik itu tidak dapat keluar dari lingkungan kesesatan yang mengurung mereka. Rasa sombong, sifat mementingkan diri sendiri dan penyakit lainnya yang bersarang di hati mereka, menyebabkan mereka tidak dapat melihat kenyataan yang ada di hadapan mereka, yakni kenyataan bahwa Islam dan umatnya semakin tambah kuat di kota Madinah.
            Kegagalan mereka dalam menghambat kemajuan Islam menambah parah penyakit dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi menemukan dan menerima kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu mereka terus menerus dalam kebingungan, keragu-raguan serta keras kepala dan tidak menemukan jalan keluar dari lingkaran kesesatan itu.
Berdasar ayat diatas,dapat disimpulkan fungsi pendidikan islam,yakni:
v       Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia,alam  sekitarnya dan kebesaran Ilahi,sehingga tumbuh kreativitas yang baik dan benar.
v  Menyucikan fitrah manusia dari sifat syirik dan berbagai sikap hidup yang dapat  mengkontaminasi fitrah kemanusiaan.
v      Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk memajukan peradaban manusia.

    C.      Tantangan pendidikan Islam
            Tidak hanya Negara vsaja yang mengalami banyak tantangan,pendidikan Islam pun juga di hadapkan oleh beberapa tantangan.Berikut contohnya:
a.      Globalisasi
Globalisasi tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat,tetapi globalisasi harus di sikapi dengan dewasa dan wajar.Al-Qur’an sebagai sumber akaran Islam yang utama dan pertama sudah semestinya menjadi rujukan bagi  umat Islam untuk menelaah lebih lanjut isi kandungan Al-Qur’an guna kemajuan peradaban Islam itu sendiri.
b.      Anggapan tertutupnya pintu Ijtihad
Ijtihad sebagai usaha sungguh-sungguh menyelesaikan problematika hukum Islam,digunakan untuk mencari kepastian hukum karena dinamika masyarakat yang semakin pesat.
Anggapan tertutupnya pintu  ijtihad adalah opini yang keliru,karena Al-Qur’an menyuruh manusia untuk senantiasa berpikir seoptimal mungkin.

    D.     Manajemen IQ,EQ dan SQ untuk meningkatkan mutu SDM
            Manusia adalah makhluk istimewa dibanding makhluk lain.Letak istimewanya adalah dimiliknya otak sebagai akal pikiran atau kecerdasan intelligency  (IQ),kecerdasan emosional (EQ),dan kecerdasan spiritual (SQ).
           Kecerdasan intelektual (IQ) adalah syarat minimum kompetensi.Artinya,untuk mencapai prestasi yang gemilang,kecerdasan spiritual lebih besar berperan.
            Kecerdasan emosi baru di kenal secara luas pada pertengahan 90-an dengan diterbitkannya buku Daniel Goleman : Emotional Intelligence.Goleman menjelaskan,kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri,dan kemampuan memotivasi diri sendiri,dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
            Kecerdasan spiritual.Banyak pendapat yang menjelaskan tentang istilah ini,salah satunya pendapat menurut Danah Zohar (2001),kecerdasan spiritual (SQ) adalah “kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar.”
        Ketiga kecerdasan itu mestinya beriringan untuk bekerjasama sehingga menjadi manusia yang paripurna.

BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Pendidikan Islam memiliki ciri khas tersendiri dalam merumuskan tujuan yang ingin di capai melalui kegiatan pendidikan tersebut.Dalam artian bahwa tujuan yang ingin dicapai harus sesuai dengan tuntutan dan ajaran Islam.Esensi dasar manusia di ciptakan oleh Allah SWT.Dalam surat Adz-Dzariat : 56 berbunyi :
وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالْإِنسَإِلَّالِيَعْبُدُونِ


                 “Dan aku tidak menciptakan jin dan mannusia kecuali supaya mereka menyembah kepada-ku”


DAFTAR PUSTAKA



0 komentar:

Posting Komentar