Jumat, 24 Februari 2012

Posted by zein Syahida On 17.33


Hati Nurani Sebagai Sumber Kesederajatan
Antar Manusia Di Atas Keragaman Kehidupan Sosial Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar

Dosen : Y.Ch. Nany S, M.Si


Oleh : Kelompok 1

Arif Riyanto 11520241001
  Zein Syahida Kusuma Putra11520241002 
Hardika Dwi Hermawan 11520241004 
Oktaviani Faizatul Khasanah 11520241005 
 Timur Rohimiasih 11520241006 
  Lalu Satriawan Kholid 11520241007

Pendidikan Teknik Informatika / Pendidikan Teknik Elektronika
Fakultas Teknik
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

 
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar dengan judul “Hati Nurani Sebagai Sumber Kesederajatan Antar Manusia Di Atas Keragaman Kehidupan Sosial Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta “ dengan lancar.
Makalah yang mengandung tema Manusia, Kesederajatan, dan Keragaman ini, kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar yang diampu oleh Ibu Nany S.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Nany S. yang telah memberikan materi sekaligus membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini, dan juga kami mengucapkan terima kasih kepada teman – teman dan seluruh pihak yang telah mendukung kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan, baik  dari segi penulisan maupun dari segi isi. Oleh karena itu tidak lupa kritik dan saran yang membangun senantiasa kami harapkan demi terwujudnya hasil yang lebih baik dalam pembuatan makalah selanjutnya.

Yogyakarta, 13 September 2011

Penyusun



BAB I
Pendahuluan

Tidak dapat kita pungkiri, bahwasannya masyarakat Indonesia memiliki keragaman ataupun pluralisme yang sangat tinggi. Keragaman itu memuat aspek seperti keragaman, ras, suku bangsa, ideologi, adat istiadat, agama atau kepercayaan, norma-norma, bahkan di dalam aspek ekonomi sekalipun kita memiliki keragaman. Namun, keragaman yang dimiliki masyarakat Indonesia tersebut seharusnya tidaklah menjadi sebuah tembok penghalang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hal itu dikarenakan sebagai masyarakat Indonesia kita memiliki berbagai indikator kesederajatan – cita-cita bangsa, kesederajatan hukum, kedudukan di dalam pemerintahan, hak asasi, serta kita sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki pancasila sebagai dasar Negara, kita diayomi dalam satu payung hukum NKRI, kita memiliki bahasa persatuan, dan yang utama, kita sama-sama berdiri di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bentuk keragaman masyarakat Indonesia sudah lama ada, hal itu dibuktikan dalam Kitab Sutasoma yang menuliskan “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua “ yang artinya walaupun berbeda namun satu jua adanya sebab tidak ada agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Pada saat itu, kehidupan beragama antara masyarakat Hindu dan Budha berjalan lancar dan saling menghormati.
Sudah sewajarnya dalam berkehidupan kita wajib saling menghormati dan menghargai keragaman atau kemajemukan yang terdapat di dalam kehidupan kita sehari-hari. Apalagi Tuhan juga memandang sederajat semua hamba-Nya, yang kemudian membedakan hanyalah ketaqwaannya.

  1. Latar Belakang
Salah satu bentuk keragaman yang jangkauannya lebih sempit adalah keragaman yang terdapat dalam kehidupan sosial kita di kampus. Bentuk keragaman itu sendiri bermacam-macam, menyangkut aspek ideologi, sosial ekonomi, politik, agama, golongan, bahkan kelompok yang di dalamnya, memiliki norma-norma yang berbeda dan tidak jarang menimbulkan pertentangan.
Sebagai bagian dari civitas akademika Universitas Negeri Yogyakarta, kita juga memiliki keragaman tersebut yang juga tidak sedikit yang menimbulkan konflik atau pertentangan.

  1. Permasalahan
Konfik dalam kampus, khususnya Universitas Negeri Yogyakarta dapat memecah-belahkan persatuan dan kesatuan mahasiswa UNY itu sendiri, yang notabene memiliki sebuah visi dan misi yang sama di bawah naungan UNY. Konflik tersebut, lebih banyak terjadi karena perbedaan ideologi, pandangan, ataupun norma-norma yang diterapkan masing-masing golongan dalam kampus yang tidak disikapi dengan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak, menjadi evaluasi bagi seluruh civitas akademika Universitas Negeri Yogyakarta. Salah satu wujud konflik tersebut dapat dilihat pada saat pelaksanaan ospek Universitas Negeri Yogyakarta pada awal Agustus 2011 lalu. Konflik yang terjadi bukan hanya memecah-belahkan persatuan dan kesatuan, tetapi juga dapat berdampak buruk bagi keberlangsungan kehidupan sosial mahasiswa UNY di dalam menjalankan aktivitas kampusnya. Hal ini tercermin dalam interaksi yang terjadi antara beberapa fakultas yang menunjukan adanya pertentangan dan ketidakharmonisan hubungan.
Kita semua adalah satu keluarga, yaitu keluarga besar Universitas Negeri Yogyakarta, sebagai keluarga sudah menjadi keharusan bahwa kita harus menjaga keutuhan keluarga.
Bentuk keragaman yang tidak ditanggapi dengan hati nurani tersebutlah yang dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Sebenarnya apa yang harus dibenahi seluruh komponen civitas akademika UNY, agar dapat mewujudkan keharmonisan hubungan sosial di dalam kampus di atas keragaman mahasiswa? Dalam makalah ini kami mencoba memberikan gambaran mengenai pentingnya hati nurani dalam menyikapi berbagai keberagaman dalam kampus Universitas Negeri Yogyakarta tercinta ini.

BAB II
Pembahasan
  1. Kesederajatan Manusia
Kesetaraan berasal dari kata setara atau sederajat. Jadi, kesetaraan juga dapat disebut kesederajatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sederajat artinya sama tingkatan (kedudukan, pangkat). Dengan demikian, kesetaraan atau kesederajatan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi atau tidak lebih rendah antara satu sama lain.1
Berdasarkan kutipan tersebut, kita mengetahui bahwa sebagai mahasiswa kita juga memiliki kedudukan ataupun tingkatan yang sama di dalam memperoleh hak-hak sesuai dengan rule atau aturan yang diterapkan pihak Universitas. Kesederajatan sudah seyogyanya menjadikan kita bersikap saling menghargai, menghormati antar suatu kelompok yang terdapat dalam komponen kampus. Selain kesederajatan tersebut, juga sudah menjadi takdir bahwa manusia memiliki kesetaraan dimata Sang Pencipta. Sang Pencipta tidaklah akan memandang apa kedudukan, jabatan, ataupun tingkatan manusia itu di dalam struktur sosial masyarakat, melainkan ketaqwaannyalah yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. Itulah salah satu bentuk prinsip kesederajatan yang sepatutnya dianut oleh setiap individu agar terwujudnya kehidupan yang tertib dan harmonis.
Oleh karena itu, dapat kita pahami bahwa kesederajatan adalah suatu sikap mengakui adanya persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban sebagai sesama manusia. Implikasi selanjutnya adalah perlunya jaminan akan hak-hak itu agar setiap manusia bisa merealisasikan serta perlunya merumuskan sejumlah kewajiban-kewajiban agar semua bisa melaksanakan agar tercipta tertib kehidupan. 1

  1. Keragaman
  1. Keragaman Mayarakat Indonesia
Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya : 1) tingkah laku; 2) macam, jenis; 3) lagu: music; langgam; 4) warna, corak, ragi; 5) (ling) laras (tata bahasa). Sehingga keragaman berarti perihal beragam-ragam: berjenis-jenis: berjenis-jenis; perihal ragam; hal jenis. 2
Keragaman adalah sebuah realita atau fakta yang terdapat dalam komponen masyarakat Indonesia. Keragaman Masyarakat Indonesia terdapat pada beranekaragamnya suku bangsa, ras, agama atau kepercayaan, ideologi, adat kesopanan, serta situasi ekonomi.
Keragaman Indonesia merupakan sebuah anugrah besar yang diberikan Sang Pencipta terhadap Indonesia.
“Jakarta (ANTARA News) - Kurang dari dua bulan, jumlah pengunjung paviliun Indonesia pada ajang bergengsi "World Expo" di Shanghai, China, telah menembus angka dua juta orang.”
Salah satu keragaman dari Indonesia yang berpenduduk sekitar 240 juta jiwa adalah perbedaan suku dan bahasa. Jumlah suku mencapai 300 dan 500 bahasa daerah.”
"Keragaman itulah yang mewarnai perjalanan Indonesia hingga saat ini, menjadi warga dunia yang mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi, namun tetap santun dengan alam," kata Wakil Direktur Paviliun Indonesia Pratito Soeharyo menjelaskan konsep yang diusung Indonesia pada Pameran Dunia itu.” 2
Itulah salah satu bukti nyata bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sepatutnya bersyukur dan menghargai keberagaman yang dimiliki. Warga dunia saja begitu tergoda dengan keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia, sebagai masyarakat Indonesia kita harus lebih bangga dan menjadikannya sebuah energi positive agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di atas berbagai keragaman yang kita miliki. Keragaman tidak akan menjadi masalah jika kita menyikapinya dengan benar dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang relevan.
Kerusuhan sosial dan tindakan represif dari berbagai institusi, berkali-kali menghapus fakta keanekaragaman di negeri ini. Padahal, keanekaragaman adalah fakta. Fakta keanekaragaman memang sesuatu yang dilematis. Di satu sisi, keberagaman adalah sebuah fenomena nyata yang tidak mungkin diingkari. Tapi di sisi yang lain, ada sebuah misi persatuan di bawah payung NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang juga harus dijunjung tinggi.3

  1. Keragaman Mahasiswa UNY
Realitas yang terjadi dalam lingkungan Universitas Negeri Yogyakarta harus diakui dengan sikap terbuka, logis, dan dewasa, karena dengannya keragaman yang ada dapat dipertumpul. Jika keterbukaan dan kedewasaan sikap dikesampingkan besar kemungkinan tercipta masalah-masalah yang menggoyahkan persatuan dan kesatuan mahasiswa, seperti :4
  1. Disharmonisasi, adalah tidak adanya penyesuaian atas keragaman antara manusia dengan dunia lingkungannya.
  2. Perilaku diskriminatif terhadap etnis atau kelompok masyarakat tertentu akan memunculkan masalah yang lain.
  3. Ekskusivisme, rasialis bersumber dari superioritas diri, alasannya dapat bermacam-macam antara lain keyakinannya bahwa secara kodrati, ras/sukunya, kelompoknya lebih tinggi dari ras/suku/kelompok lain.
Itu semua dapat kita hindari jika kita meletakan koridor kita dalam posisi yang benar.
Realitas keragaman mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa keragaman yang terlihat di lingkungan kampus Universitas negeri Yogyakarta adalah keragaman suku bangsa dan ras seperti ras Mongoloid Melayu Muda (Deutero Malayan Mongoloid) yang termasuk di dalamnya adalah masyarakat Indonesia bagian barat mulai dari Sulawesi. Kecuali Batak dan Toraja yang termasuk Mongoloid Melayu Tua (Proto Malayan Mongoloid). Sebelah timur Indonesia termasuk ras Austroloid, termasuk bagian NTT. Sedangkan keompok terbesar yang tidak termasuk kelompok pribumi adalah golongan Cina yang termasuk Astratic Mongoloid.
Keragaman bahasa. Sebagai mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang berasal dari berbagai penjuru pelosok Tanah Air bahkan sebagian kecil ada yang berasal dari luar negeri, memiliki ciri khas tersendiri, yang diantaranya adalah ciri bahasa yang digunakan. Bahkan, dalam pengucapan bahasa Indonesia, masih sering kita dengar pengucapan lafal yang masih mencirikan lafal kedaerahan. Keragaman bahasa yang lebih sempit juga terdapat dalam bahasa Jawa, dimana sering kita dengar beberapa mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa kesehariannya namun memiliki pelafalan yang berbeda. Seperti bahasa jawa yang digunakan oleh masyarakat Purbalingga, Purwokerto, Banjarnegara, Cilacap, Tegal, dan sekitarnya akan sedikit berbeda dengan bahasa jawa yang digunakan oleh masyarakat Yogyakarta, Solo, Jawa Timur, dan sekitarnya.
Masih banyak keragaman lain yang terdapat di dalamnya. Salah satu keragaman yang sering menjadi permasalahan adalah keragaman ideologi mahasiswa.
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta memanglah heterogen. Seperti beberapa contoh keberagaman yang telah dijelaskan diatas. Mahasiswa UNY juga tidak sedikit yang berasal dari desa, ada yang berasal dari metropolitan, bahkan ada yang besar dan tumbuh di luar negeri. Ada yang anak petani, anak guru, anak anggota DPR, pegawai, bahkan sampai dengan pengusaha. Hal itu tidaklah menjadi masalah ketika kampus menerima berbagai mahasiswa dari berbagai latar belakang kehidupan.
  1. Hati Nurani
Dalam pandangan para sufi, hati yang lebih ditekankan pada makna lathiifah rabbaniyah ruuhaniyyah adalah sesuatu yang menjadi tumpuan pandangan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Alquran, ”Tidak ada dosanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengajanya. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Mengasihi” (QS 33:5).5
Dalam bahasa Inggris, hati nurani artinya consciece. Kalau kata consciece diterjemahbalik maka artinya menjadi suara hati, kata hati atau hati nurani. Berdekatan dengan kata conscience, ada kata conscious. Conscious artinya sadar, berkesadaran, atau kesadaran. Disamping kedua kata ini, ada satu lagi yang berdekatan maknanya yaitu intuition, intuition artinya gerak hati, lintasan hati, gerak batin. 6
Consciece = Conscience is an ability or a faculty that distinguishes whether one’s actions are right or wrong. It leads to feelings of remorse when one does. Hati nurani adalah kemampuan atau fakultas yang membedakan apakah salah satu dari tindakan apakah benar atau salah. The moral sense of right and wrong, chiefly as it affects one’s own behaviour; Consciousness; thinking; awareness, especially self-awareness. Rasa moral tentang yang benar dan yang salah, terutama karena akan mempengaruhi tingkah laku sendiri; Kesadaran; berpikir; kesadaran, terutama kesadaran diri. Kesadaran juga berarti peran kognitif diri yang memperjelas secara sadar di mana diri kita saat ini dan bagaimana situasi lingkungan kita. Kajian-kajian yang mendalam tentang hal ini dapat kita telusuri lebih jauh terutama di dalam sains psikologi.6
  1. Arti Hati Nurani
Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia dalam situasi konkret. Suara hati menilai suatu tindakan manusia benar atau salah , baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru. Dalam hati, manusia sebelum bertindak atau melakukan sesuatu , ia sudah mempunyai kesadaran atau pengetahuan umum bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap orang memiliki kesadaran moral tersebut, walaupun kadar kesadarannya berbeda – beda. Pada saat-saat menjelang suatu tindakan etis, pada saat itu kata hati akan mengatakan perbuatan itu baik atau buruk. Jika perbuatan itu baik, kata hati muncul sebagai suara yang menyuruh dan jika perbuatan itu buruk, kata hati akan muncul sebagai suara yang melarang. Kata hati yang muncul pada saat ini disebut prakata hati. Pada saat suatu tindakan dijalankan, kata hati masih tetap bekerja, yakni menyuruh atau melarang. Sesudah suatu tindakan, maka kata hati muncul sebagai “hakim” yang memberi vonis. Untuk perbuatan yang baik, kata hati akan memuji, sehingga membuat orang merasa bangga dan bahagia. Namun, jika perbuatan itu buruk atau jahat, maka kata hati akan menyalahkan, sehingga, orang merasa gelisah, malu, putus asa, menyesal.
  1. Fungsi Hati Nurani
Fungsi hati nurani yaitu sebagai pegangan, pedoman, atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk. Hati nurani berfungsi sebagai pegangan atau peraturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari dan menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.
Sikap kita terhadap hati nurani adalah menghormati setiap suara hati yang keluar dari hati nurani kita. Mendengarkan dengan cermat dan teliti setiap bisikan hati nurani. Mempertimbangkan secara masak dan dengan pikiran sehat apa yang dikatakan hati nurani. Melaksanakan apa yang disuruh hati nurani.
  1. Pentingnya Pembinaan Hati Nurani bagi Mahasiswa UNY
Dengan hati nurani yang baik dan benar, seseorang akan selalu terdorong untuk bertindak melakukan kehendak Tuhan dan menuruti norma-norma moral obyektif. Pembinaan hati nurani tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan seseorang tentang kebenaran dan nilai-nilai, ataupun kemampuan untuk memecahkan dilema moral, tetapi juga harus memasukkan ke dalamnya pembinaan karakter moral seseorang secara lebih penuh. Pembinaan hati nurani merupakan upaya yang hakiki agar manusia lebih mampu hidup dan bertindak sesuai dengan bisikan hati hati nurani yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral. Melalui pembinaan hati nurani, manusia diharapkan bisa terhindar dari kesesatan dalam pengambilan keputusan dan tindakan. Dengan begitu, perbedaan ataupun keragaman tidak menjadi permasalahan yang dapat memicu konflik.
Dalam hadis diungkapkan ”Sesungguh-nya Allah tidak memandang bentuk dan tubuhmu, tetapi Dia memperhatikan hati dan perbuatanmu.” (HR Muslim). Allah hanya memperhatikan hati, karena hati itulah yang menjadi hakikat manusia. Karakter seseorang berbeda dengan yang lain karena hatinya berbeda. Perbedaan itu pula yang menyebabkan perbedaan dalam cara Allah memperlakukan sang hamba itu sendiri.7
Sebagai contoh, seseorang dengan hati nurani, melihat ada orang lain yang patut ditolong pasti akan ditolongnya tanpa menghiraukan apa jenis warna kulitnya dari bangsa atau kelompok mana yang ditolong itu berasal. Dengan hati nurani juga manusia bisa berbuat baik untuk seluruh mahluk yang ada di alam ini dengan memberi perlindungan secara maksimal dengan menjaga keseimbangannya. Inilah manusia yang dapat memberi rahmat atas alam ini, pembawa damai dan toleransi.
Contoh tersebut menjadi bukti begitu pentingnya hati nurani untuk dijadikan pedoman dalam berbuat. Mahasiswa yang menggunakan hati nurani dalam setiap melaksanakan aktivitasnya, berarti dia telah turut berusaha agar menjadi insan yang bertaqwa, dalam sisi lain juga turut berusaha mensukseskan visi UNY yaitu mencetak generasi-generasi lulusan yang bertaqwa. Hal itu juga sejalan dengan tekad UNY guna meningkatkan perannya dalam pengembangan pendidikan karakter menuju universitas kelas dunia, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas.
Jika hati nurani tersebut digunakan oleh seluruh komponen masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta, khususnya mahasiswa, keharmonisan hubungan antar fakultas / kelompok / organisasi kampus, dan sejenisnya dapat tetap terjaga dengan baik karena mereka akan cenderung hidup saling menghargai, menghormati, dan cenderung akan menjauhi hal-hal yang dapat menjadi pertentangan ataupun konflik yang berkelanjutan.
Ibu Nurhayati Budiyanti dalam artikelnya berjudul “Ini Kampus Pendidikan, Bung!” yang dimuat di Rema Post Edisi 5/Tahun IV/Agustus 2010 mengungkapkan :
“Sebagai kampus pencetak guru, maka UNY berbeda dengan kampus-kampus lain. Di sinilah pembentukan karakter menjadi sebuah hal yang sangat ditekankan. Bagaimana jika karakter para guru bobrok? Hukum alam mengatakan muridnya akan lebih bobrok. Meskipun guru bukan dewa atau malaikat yang suci dari kesalahan, namun seorang guru mesti memiliki karakter ideal yang nantinya menjadi panutan muridnya. Maka, kampus ini menjadi kawah candradimuka dalam pembentukan karakter, sesuai dengan visi UNY mewujudkan insan yang bernurani, cendekia, dan mandiri.”
Kutipan tersebut menjadi bukti, bahwa sudah menjadi tanggung jawab bersama, sebagai calon guru, haruslah menjadi suri tauladan yang baik, terutama bagi murid – muridnya, hati nurani menjadi hal yang penting yang tidak dapat dimunafikan.

BAB III
Penutup
  1. Kesimpulan
Konflik dalam kampus Universitas Negeri Yogyakarta yang disebabkan karena tidak disikapi dengan hati nurani hendaklah menjadi bahan instrospeksi dan refleksi kita sebagai bagian konkret dari civitas akademika UNY dalam menyikapi permasalahan yang terjadi.
Jika setiap mahasiswa meletakan hati nurani di atas akal dan pikiran, perbedaan ataupun keragaman akan disikapinya dengan benar dan tidak akan menimbulkan konflik yang dapat memecah-belahkan persatuan mahasiswa UNY.
Ada kalanya logika manusia tidak dapat memberikan keputusan terbaik, maka dengan hati nurani diharapkan dapat memegang kendali atas keputusan kita. Hati nurani merupakan salah satu ”otak” dalam pengambilan keputusan disamping logika. Hati nurani dapat juga memberikan penilaian dan rasa tanggung jawab terhadap keputusan tersebut. Hati nurani memiliki fungsi sebagai ”juri” atas diri kita. Hati nurani akan terus memberikan penilaian terhadap perbuatan, keputusan, dan cara hidup kita. Itulah mengapa hati nurani menjadi penting sebagai sumber kesederajaan di atas keragaman mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta demi terciptanya kehidupan sosial dalam kampus yang harmonis dan tetap terjaga hubungan kekeluargaannya.

  1. Saran
Marilah kita selalu bercermin kepada hati nurani, karena didalamnya terkandung nilai-nilai luhur, yang akan membawa kemaslahatan bagi kita sendiri dan orang-orang disekitar kita. Janganlah pertimbangan-pertimbangan negatif lebih mendominasi, sehingga menyebabkan “buta”nya hati nurani. Kembalilah kepada pemikiran-pemikiran positif dalam mencermati suatu masalah dengan koridornya adalah hati nurani. Janganlah konsep materialistis sampai mengesampingkan hati nurani, kita tidak akan mampu lari dari kesalahan-kesalahan akibat melawan nurani itu.

DAFTAR PUSTAKA

M Setiadi, Dr. Elly, dkk. 2007. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Kencana – Prenada Media Group : Jakarta.
http://syaharuddin.wordpress.com/2010/04/10/masalah-keragaman-dalam-masyarakat-indonesia/
http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2009/08/11/filsafat-hati-nurani-bag-1/
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1386:uny-tingkatkan-pendidikan-karakter-&catid=69:berita-terkait&Itemid=196
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=citizen&act=view&id=73278a4a86960eeb576a8fd4c9ec6997

0 komentar:

Posting Komentar