Senin, 23 Januari 2012

Posted by zein Syahida On 02.41
ABSTRAK

      Penyusunan makalah ini tujuan untuk memngakat kembali budaya nyekar dan ini nyadran yang pada zaman  sekarang ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat jawa.Masuknya era globalisasi ini menuntut kita untuk menuju masyarakat modern yang haus akan budaya. Meninggalkan budaya nyekar dan nyadran menujukan bahwa masyarakat jawa belum bisa menghargai budaya. Seadangkan budaya Nyekar dan nyadran merupakan budaya masyrakat jawa yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.
     Dinamakan nyekar karena sebagaimana kata sekar yang berarti kembang / bunga, maka definisinya adalah sebagai satu bentuk tradisi pengiriman bunga yang ditujukan kepada nenek moyang dan arwah leluhur yang telah mendahului kita.Sementara nyadran, adalah sebuah kata berasal dari bahasa Sanskerta “sraddha” yang artinya keyakinan, percaya atau kepercayaan. Didalam kotekas ini pengertian Nyekar dan nyadran memiliki kesamaan yaitu sama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan dengan cara berziarah kubur juga.
     Dimana pelaksanaan   mengenai tradisi nyekar mungkin bisa dilakukan tanpa terkait dengan hari, jadi kapan saja berkehendak nyekar selama masih pada bulan ruwah maka tak ada larangan untuk melaksanakannya, Sedangkan pelaksanaan nyadran biasanya dipilih pada tanggal 15, 20, dan 23 bulan Ruwah dikarenakan dalam pelaksanaan tradisi nyadran ini melibatkan orang banyak. Sementara makanan yang biasanya harus ada saat nyadran adalah berujud ketan, kolak, serta apem.Dari penjelasan diatas membuat penulis termotivasi untuk membuat makalah  terhadap budaya atau tradisi nyekar dan nyadran . Dimana kedua budaya atau tradisi tersebut sudah dilakukan oleh masyarakat jawa sejak nenek moyang mereka.

Kata Kunci : Budaya, Nyekar, Nyadran


BAB I
PENDAHULIAN

        Pulau Jawa merupakan bagian terkecil dari republik Indonesia yang terkenal sebagai pusat pendidikan dan  pusat kebudayaan. Pulau Jawa merupakan tempat wisata yang sangat potensial. dimana banayak wisatawan lokal maupun manca yang memilih Jawa sebagai  tempat wisata dikarenakan kota Jawa   memilik daya terik atau potensi sendiri  yang disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya :
  • Yogyakarata sejak beberapa tahun yang lalu merupakan pusat pemerintahan Indonesia dan sebagai pusat pengembangan kebudayaan.
  • Jawa sebagai pusat pendidikan sangat dikenal diseluruh penjuru negeri.
  • Keadaan geografis Jawa yang sangat mempesona yang berupa gunung, pantai, dan peninggalan peningalan sejarah berupa candi d an bangunan kuno.
  • Letak Jawa yang sangat strategis.
       Pada hakekatnya budaya asli terdapat di lingkungan kerajaan. Sebagai daerah bekas kerajaan yang besar, Jawa memiliki kebudayaan yang cukup tinggi bahkan pusat sumber budaya jawa. Peninggalan budaya tersebut masih dapat disaksikan terpahat di monument monument peninggalan sejarah seperti candi  dan tempat tempat lainya yang masih ada kaitanya dengan kehidupan istana. Nilai nilai budaya di Jawa terungkap pula melalaui arsitektur rumah penduduk yang berbentuk joglo. Hal tersebut memperkuat Jawa sebagai wilayah yang memiliki nilai tradisional yang sangat menarik.
       Salah satu  contoh budaya Jawa adalah nyadran dan nyekar.  Peristiwa nyadran dan nyekar ini menjadi lebih menarik ketika pekembangan zaman yang sudah maju  dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang teteapi tradisi nyadran dan nyekar masih berlangsung namun ada juga masyarakat jawa yang sudah tidak melaksanakan tradisi nyekar dan nyadran dimana mereka memilih mengikuti perkembangan zaman yang lebih modern tanpa memperdulikan budaya. Hal tersebut membuat budaya yang telah dilakukan masyarakat sejak leluhur  mereka berangsur angsur menghilang .
    Maka dari itu penulis ingin mengangkat budaya nyadran dan nyekar yang sekarang ini hilang dari kehidupan masyarakat Jawa selain itu penulis mempunyai pokok permasalah mengenai tradisi nyadran dan nyekar , Apa pengertian dari nyekar dan nyadran , Bagaimana tata cara pelaksanaan nyadran dan nyekar  sehingga budaya nyadran tidak akan hilang dari kehidupan mereka dan dapat diwariskan ke anak cucu mereka.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Nyekar dan Nyadran

      Di Indonesia khususnya masyarakat Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan dan nyekar  merupakan ungkapan refleksi dari  sosial-keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Nyadran dan nyekar ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dan nyekar dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya'ban atau Ruwah.
     Banyak masyarakat Jawa yang percaya bahwa  pada bulan ruwah  sangat tepat sekali  bagi  manusia yang masih diberikan hidup oleh Allah SWT didunia ini untuk  memanjatkan do'a agar arwah leluhur  yang telah mendahului kita pulang ke rahmatNYA diberikan tempat yang layak disisiNYA dan masih banyak pula masyarakat Jawa meyakini sebuah paham bahwa bulan Ruwah adalah sebagai saat turunnya arwah para leluhur untuk mengunjungi anak cucu di dunia, hal ini lebih sering disebut dengan istilah  mudhunan dan munggahan. Karena itulah masyarakat Jawa mengenal tradisi yang bernama 'nyekar' dan atau "nyadran".
    Dinamakan nyadran, karena nyadran berasal dari bahasa Sanskerta “sraddha” yang artinya keyakinan, percaya atau kepercayaan. Secara etimologi nyadran dapat diartikan sebagai  satu bentuk tradisi layaknya kenduri yang menggunakan sarana tertentu yang biasanya berwujud makanan besekan. Sementara makanan yang biasanya harus ada saat nyadran adalah berujud ketan, kolak, serta apem
    Seadangkan nyekar diartikan sebagai ritual kirim bunga”pamulen”kepada leluhur atau orang – orang dialam baka, sebagai suatu penghormatan .Tradisi ini sering disebut sebagai ritual ngirim luwur dan telah membudaya di masyarakat jawa dan sebagian besar bangsa Indonesia 

B.Tata Cara Pelaksanaan nyadran dan nyekar.
B1.1 Tata cara Nyadran 
  

    Nyadran merupakan kegiatan yang sampai saat ini terkenal di masyarakat Jawa dan mereka melakukannya dengan patuh. Nyadran dan nyekar dilaksanakan di bulan ruwah sekitar tanggal 20 sampai tanggal 29 ruwah sebelum masyk di bulan ramadhan. Pelaksanaan nyekar dan nyadran biasanya dilaksanakan oleh masyarakat dari tingkat RT hingga kabupaten dengan sepenuh hati mereka karena sebagai ungkaoan ketaatan masyarakat jawa terhadap agama.
      Prosesi budaya nyadran biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Diaman ketiga makanan tersebut  berasal dari bahasa arab, ketan berasal dari bahasa arab khotoa yang mempunyai arti kesalahan. Apem berasal dari kata afwun yang artinya memiliki pengampunan.dan kolak berasal dari kata kullu yang artinya mengenag kematian. Ketiga jenis makanan tersebut dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuk lidi ( biting ). Kue-kue tersebut menjadi pelengkap  kenduri. Tetangga dekat dan saudara juga mendapatkan bagian dari kue-kue tersebut. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.
      Selesai membuat kue masyarakat jawa biasanya juga melakukan pembersihan makam, dimana sekitar lokasi  makam yang sudah selesai dibersihkan atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur ( keluarga ) digunakan sebagai tempat  kenduri. Kenduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan kode dara muluk  

B1.2  Tata cara Nyekar
     Dalam tradisi masyarakat jawa , Nyekar selain dilakukuan  diakhir ruwah juga ada yang melakukanya ramdhan setelah tanggal 21 ke atas dan ada pula yang memilih nyekar pada hari besar, yakni bertepatan dengan hari riyadi ( hari yang dianggap paling baik ). 
     Diluar itu tradisi nyekar juga dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa akan  ketika menjelang pernikahan dari bagian anggota kelurga( menikahka anak, saudara) dan kitanan atau ketika  mau mempunyai pekerjaan yang besar yang harus meninggalkan tanah kelahirannya.

 C.Konteks nyadran di berbagai bidang

       Nyadran merupakan ekspresi dan ungkapan kesalehan sosial masyarakat di mana rasa gotong- royong, solidaritas, dan kebersamaan menjadi pola utama dari tradisi ini. Ungkapan ini pada akhirnya akan menghasilkan sebuah tata hubungan vertikal-horizontal yang lebih intim. Dalam konteks ini, maka nyadran akan dapat meningkatkan pola hubungan dengan Tuhan dan masyarakat (sosial), sehingga akhirnya akan meningkatkan pengembangan kebudayaan dan tradisi yang sudah berkembang menjadi lebih lestari.

 Dalam konteks sosial dan budaya
      nyadran dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme (Gatot Marsono). Dalam prosesi ritual atau tradisi nyadran kita akan berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan.

Nyadran menjadi ajang untuk berbaur dengan masyarakat
   saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. Apabila nyadran ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom-ayem, dan tenteram.
Nyadran dalam konteks Indonesia
   Saat ini telah menjelma sebagai refleksi, wisata rohani kelompok masyarakat di tengah kesibukan sehari-hari. Masyarakat, yang disibukkan dengan aktivitas kerja yang banyak menyedot tenaga sekaligus (terkadang) sampai mengabaikan religiusitas, melalui nyadran, seakan tersentak kesadaran hati nuraninya untuk kembali bersentuhan dan bercengkrama dengan nilai-nilai agama: Tuhan

BAB III
KESIMPULAN

      Namu dari penjelasan nyadran dan nyekar dia atas  dapat di ambil inti sari persamaan dari keduanya yaitu  "sama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan dengan cara berziarah kubur juga."
     Nyekar atau ziarah sebenarnya hanyalah sebuah tradisi. Menurut pemahaman saya tidak harus kita menggunakan bunga dalam tradisi nyekar. Yang terpnting adalah kita mendoakan dengan sungguh-sungguh agar para kerabat yang mendahului kita di ampuni dosanya dan di terima amal ibadahnya. Jadi intinya bukan pada menabur bunganya.
      Sementara  nyadran dan nyadran sepertinya juga tak menyimpang dan masih relevan  apabila diterapkan saat ini, dimana baik tradisi nyekar ataupun tradisi nyadran keduanya tak hanya bermuara pada karya  gotong royong dan kebersamaan dalam membersihkan makam leluhur semata, ataupun selamatan dengan kenduri.  Selain itu tradisi nyadran dan nyekar juga mampu menjalin silaturahmi diman masyarakat tidak harus terpisah andanya  sosial, kelas, golongan.Sehingga masyarakat dapat menjalankan kehidupan sosilanya secara damai.
DAFTAR PUSTAKA
Lia.2006.nyekar.http://lianamaku.multiply.com/journal/item/181/Nyekar?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
diakses pada hari Rabu, 07 Desemeber 2011.pukul 09.00

Anwar. 2011. Tradisi Tabur Bunga (Nyekar) Dalam Pandangan Islam .http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/05/tradisi-tabur-bunga-nyekar-dalam.html
diakses pada hari Rabu, 07 Desemeber 2011.pukul 09.00

Muhammad Irsyadul Ibad.2011. Nyekar.Tradisi Unik Masyarakat Jawa Menjelang  Ramadhan. http://forumwarga.net/2011/07/30/suarawarga/nyekar-tradisi-unik-masyarakat-jawa-menjelang-ramadhan/
diakses pada hari Rabu, 07 Desemeber 2011.pukul 09.00

Ficky Yusrini.2010. Ketika Musim Nyekar Tiba. http://www.femina.co.id/archive/main/issue/issue_detail.asp?id=683&cid=2&views=53
diakses pada hari Rabu, 07 Desemeber 2011.pukul 09.00

Kusumonagara.2000. Wista Yogyakarta.Yogyakarta. Dinas Pariwisata






       

1 komentar:

  1. Para penyampai agama/da'i berusaha mencari bentuk agama yg tidak menyimpang dari tauhid, sedangkan pelaksanaan nyekar dan niatnya sepertinya telah lepas dari rel Islam. Di lain pihak, blog ini menjurus kepada pemeliharaan budaya hingga akhirnya bersentuhan dgn tabur bunga alias nyekar. Walau bagaimna sudut pandang agama tidak selalu seiring sejalan dgn pemikiran budaya/tradisi.

    BalasHapus